SalwA
Surat Al-Baqarah: 57
![]()
57. Dan Kami naungimu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa.” Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, melainkan merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
Mereka dimusnahkan dengan halilintar, dan kemudian dibangkitkan kembali setelah mengalami kematian fisik. Kesadaran murni bisa mendapatkan petunjuk kebenaran. Supaya dapat memahami segala macam sifat, maka kita perlu mengetahui lawannya: untuk mengetahui panas, kita perlu mengetahui dingin; untuk mengetahui hidup, kita perlu mengetahui mati. Kematian itu penting, supaya kita dapat mengetahui makna keabadian, karena Allah menciptakan kita dari bahan mati.
Pengetahuan atau ilmu ketuhanan yang mereka dapatkan dari kematiannya membuat mereka dapat memahami senyata-nyatanya bahwa Allah adalah Sang Maha Pemelihara dan Maha Pemberi Rezeki. Mereka terbebas dari ilusi bahwa merekalah sumber dari segala rezeki. Dengan pengetahuan ini, muncullah kebebasan. Ketergantungan dan keterikatan kepada sumber kedua, atau sumber kemakhlukan, berakhir ketika seseorang mendapatkan hubungan dengan realitas agung, Sang Sebab Utama.
Rezeki mereka datang dalam bentuk manna dan salwa. Manna berasal dari akar kata yang artinya memberikan dengan murah hati, sedangkan salwa memiliki arti mirip dengan kedamaian. Kita dapat memahami istilah-istilah ini dalam pengertian rezeki lahir dan batin. Manna, dalam pengertian fisik, adalah buangan kotoran yang rasanya manis dari sejenis pohon, sedangkan salwa juga dapat berarti burung. Jadi, secara batin, manusia diberikan penghidupan yang tidak perlu susah payah didapatkan, karena mereka telah memiliki pengetahuan tentang kebebasan dari sebab-akibat, pengetahuan yang baru saja mereka miliki.